Blog
Viscose Modal Printing atau Dyeing? Tren 2026
Menjelang Lebaran 2026, ada satu bahan yang tiba-tiba muncul di mana-mana, dari rak toko hijab sampai FYP TikTok. RRI melaporkan pashmina viscose jadi salah satu tren jilbab paling dicari tahun ini, khususnya di kalangan remaja, sementara Kompas Lifestyle menyebut pashmina viscose printed sebagai salah satu favorit Lebaran 2026, tren yang sejalan dengan yang sudah pernah dibahas di artikel kain pashmina trend. Bukan kebetulan, ini bagian dari pergeseran selera fashion hijab yang lebih besar: menuju bahan yang ringan, nyaman, flowy, dan gampang dibentuk.
Dari fenomena ini, muncul pertanyaan yang lebih relevan buat brand dan produsen garment: bahan viscose modal itu sebenarnya apa, dan bagaimana satu bahan yang sama bisa dikembangkan jadi berbagai macam koleksi lewat dua pendekatan, printing dan dyeing?
Viscose Bukan Sekadar Tren di Media Sosial

Tren pashmina viscose bukan cuma soal konten viral, ada pola konsumsi Gen Z yang mendukungnya secara lebih struktural. Beberapa data yang menunjukkan ini:
- RRI Purwokerto dan RRI Denpasar sama-sama melaporkan pashmina viscose sebagai tren jilbab Lebaran 2026, dengan salah satu pemilik toko hijab di Denpasar menyebut permintaan viscose polos maupun bermotif terus naik menjelang Lebaran.
- Kompas Lifestyle turut menulis pashmina viscose printed sebagai salah satu dari lima tren hijab Lebaran 2026, dengan motif floral, abstrak, dan geometris lembut sebagai favorit.
- Studi akademik terhadap 104 perempuan Muslim Gen Z usia 11-26 tahun (Riski Rahman & Indra, IAI Tazkia, 2024) menemukan bahwa gaya hidup (lifestyle) adalah faktor yang paling dominan memengaruhi preferensi fashion hijab, lebih besar dibanding faktor lain yang diteliti.
- Di media sosial, konten kreator turut menegaskan asosiasi ini, misalnya video TikTok yang secara eksplisit mengaitkan pashmina viscose printed dengan identitas fashion Gen Z.
Poin yang ingin ditekankan di sini: viscose bukan sekadar bahan yang sedang viral sesaat. Di balik tren ini ada kombinasi antara pergeseran gaya hidup Gen Z dan karakter bahan yang memang cocok dengan kebutuhan mereka.
Sebenarnya Apa Itu Viscose dan Modal?

Viscose dan modal sama-sama termasuk kategori regenerated cellulose fiber, serat yang diolah dari bahan alami (biasanya kayu) tapi melalui proses kimia sehingga sifatnya berbeda dari serat alami murni seperti katun. Karakter utama masing-masing:
| Serat | Karakter Utama |
| Viscose | Lembut, nyaman, punya drape atau kemampuan jatuh yang bagus, cukup breathable dan bisa menyerap kelembapan dengan baik |
| Modal | Lembut dan nyaman untuk kebutuhan apparel, sering dianggap sebagai versi yang lebih halus dari keluarga rayon |
Dua serat ini yang mendasari kenapa produk berbahan viscose modal terasa berbeda dibanding katun atau polyester biasa begitu dipegang atau dipakai.
Kenapa Viscose Cocok dengan Arah Fashion Sekarang?

Viscose cocok dengan arah fashion 2026 karena karakternya menjawab langsung apa yang sedang dicari konsumen: kenyamanan, bukan cuma tampilan visual. Beberapa alasan yang menghubungkan karakter bahan ini dengan pergeseran selera pasar:
- Konsumen semakin mengutamakan kenyamanan pakaian dan hijab, bukan cuma tampilan saat difoto.
- Siluet flowy semakin diminati, dan drape alami viscose mendukung tampilan ini tanpa perlu banyak treatment tambahan.
- Bahan yang mudah dibentuk memberi lebih banyak opsi styling bagi pemakainya.
- Fashion sekarang bergerak ke arah “experience”, bukan cuma estetika di permukaan.
Viscose juga fleksibel dari sisi aplikasi produk, bisa dipakai untuk pashmina, hijab, scarf, khimar, inner, dan berbagai muslimwear lainnya. Intinya sederhana: bahan yang bagus bukan cuma yang terlihat bagus saat difoto, tapi juga yang terasa nyaman ketika benar-benar dipakai.
Bahan yang Sama Bisa Punya “Wajah” yang Berbeda

Material saja tidak cukup untuk membangun sebuah koleksi fashion. Brand juga perlu memikirkan warna, motif, visual identity, karakter koleksi, target market, dan positioning produknya secara keseluruhan, pertimbangan yang juga dibahas dari sisi pemilihan bahan di artikel bahan kain untuk muslimwear. Dari sinilah muncul dua pendekatan pengembangan kain yang sama: printing dan dyeing.
Viscose Modal Printing, Ketika Motif Menjadi Identitas

Printing memungkinkan brand membangun identitas visual lewat motif, bukan cuma warna solid. Pendekatan ini memakai digital printing, yang membuka ruang eksplorasi desain jauh lebih luas dibanding hanya mengandalkan warna polos.
- Cocok untuk brand yang ingin bermain dengan motif dan menciptakan visual yang unik.
- Motif bisa menjadi identitas koleksi yang membedakan satu brand dari brand lain.
- Fleksibel untuk berbagai jenis motif, dari motif seasonal, motif eksklusif, floral, abstrak, sampai motif custom sesuai kebutuhan brand.
- Umum diaplikasikan ke produk seperti scarf, pashmina, dan hijab bermotif.
Viscose Modal Dyeing, Ketika Warna Jadi Kekuatan Utama

Dyeing menghasilkan kain dengan warna solid, cocok untuk brand yang ingin tampilan clean dan minimalis. Bukan berarti dyeing “kalah” dari printing, keduanya punya fungsi berbeda yang sama-sama penting. Kalau ingin memahami lebih dalam soal proses pewarnaan dan ketahanan warnanya, ada pembahasan lengkap di artikel warna kain.
- Cocok untuk brand yang menyukai tampilan clean dan minimalis.
- Lebih fleksibel dipadukan dengan berbagai desain lain di luar produk kainnya sendiri.
- Bisa dipakai untuk koleksi basic maupun koleksi fashion yang lebih statement.
- Pilihan warna yang luas memungkinkan brand membuat koleksi warna seasonal, warna signature, warna basic, warna soft/pastel, sampai warna fashion yang lebih berani.
Printing vs Dyeing, Mana yang Lebih Cocok untuk Brand Anda?

Pilihan antara printing dan dyeing sebaiknya disesuaikan dengan tujuan koleksi yang ingin dibangun, bukan soal mana yang lebih unggul secara mutlak.
| Kebutuhan Brand | Printing | Dyeing |
| Bermain motif dan membangun identitas visual | Cocok | Kurang cocok |
| Tampilan clean dan minimalis | Kurang cocok | Cocok |
| Koleksi basic yang mudah dipadukan | Kurang cocok | Cocok |
| Koleksi lebih statement dan standout | Cocok | Kurang cocok |
Banyak brand yang justru menggabungkan keduanya dalam satu lini, sebagian koleksi pakai motif untuk daya tarik visual, sebagian lagi pakai warna solid untuk basic yang selalu dibutuhkan pasar.
Viscose Modal dari Perdana Textile

Perdana Textile menghadirkan Viscose Modal dalam dua pilihan pengembangan, Printing dan Dyeing, untuk menjawab kebutuhan brand yang berbeda-beda.
- Viscose Modal Printing, menggunakan digital printing, memberi ruang untuk bermain motif dan mengembangkan identitas visual brand secara lebih eksploratif.
- Viscose Modal Dyeing, warna solid dengan pilihan warna yang luas, cocok untuk koleksi basic sampai fashion.
Kombinasi yang ditawarkan sederhana: material yang nyaman, visual yang bisa disesuaikan, dan kebebasan desain sesuai arah koleksi masing-masing brand.
Trend Bisa Berubah, tapi Pemilihan Bahan Tetap Penting

Fashion akan terus berubah. Hari ini konsumen tertarik motif tertentu, besok bisa kembali ke warna minimalis. Tapi kebutuhan terhadap bahan yang nyaman, punya karakter visual menarik, dan sesuai fungsi produk akan selalu relevan, apa pun arah tren yang sedang berjalan.
FAQ
Apa perbedaan viscose dan modal?
Keduanya sama-sama termasuk regenerated cellulose fiber, tapi modal umumnya dianggap sebagai versi yang lebih halus dan lembut dari keluarga rayon, sementara viscose lebih dikenal luas sebagai bahan dasar dengan drape dan kelembutan yang khas.
Kenapa pashmina viscose jadi tren di kalangan Gen Z?
Kombinasi antara karakter bahan yang ringan, adem, dan mudah dibentuk dengan pergeseran gaya hidup Gen Z yang lebih mengutamakan kenyamanan dibanding tampilan semata. Riset akademik juga menunjukkan lifestyle adalah faktor paling dominan dalam preferensi fashion hijab Gen Z.
Apa bedanya viscose modal printing dan dyeing?
Printing menghasilkan kain bermotif lewat digital printing, cocok untuk brand yang ingin membangun identitas visual lewat desain. Dyeing menghasilkan warna solid, cocok untuk brand yang mengutamakan tampilan clean dan fleksibel dipadukan dengan berbagai desain lain.
Apakah dyeing kalah menarik dibanding printing?
Tidak. Keduanya punya fungsi berbeda, bukan soal mana yang lebih unggul. Dyeing lebih cocok untuk koleksi basic dan minimalis, sementara printing lebih cocok untuk koleksi yang ingin standout lewat motif.
Produk apa saja yang bisa menggunakan viscose modal?
Viscose modal fleksibel untuk berbagai produk muslimwear, termasuk pashmina, hijab, scarf, khimar, inner, dan berbagai jenis apparel fashion lainnya.
Referensi
- RRI.co.id, Tren Jilbab Lebaran 2026, Pashmina Viscose Kian Digemari
- RRI.co.id, Tren Pashmina Viscose Jadi Primadona Hijab Lebaran 2026 di Bali
- Kompas.com Lifestyle, 5 Tren Hijab Lebaran 2026, Pashmina Printed dan Cashmere Banyak Dicari
- Riski Rahman & Indra, The Influence of Halal Fashion, Lifestyle, and Brand Image on Gen Z’s Hijab Fashion Preferences in Indonesia (JoIE: Journal of Islamic Economics, 2024)